Rabu ke-17
Matahari belum ingin pulang. Angin sore baru saja datang. Namun seorang gadis sawo matang nampak ingin segera menutup hari. Dengan sebelumnya mengunjungi senja di taman kecil seberang kantor. Ia bergegas mematikan komputer, melepas id card bertuliskan Clavinna Dean, dan sembunyi-sembunyi keluar ruangan. Clave mempercepat langkah. Dilirik jam perak pemberian tantenya. Masih ada tujuh menit sebelum senjanya tiba. Ia tidak ingin melewatkan momen berharga itu. Tidak sedetik pun. Seperti enam belas Rabu sebelumnya. Napas Clave naik turun dengan cepat. Ditenggaknya frappio dalam satu tarikan. Teman setianya mengunjungi senja hari Rabu. Belum genap satu menit napasnya kembali normal, sosok itu menyeruak sore dari pertigaan taman. Menggenggam jantung Clave. Membuat degupnya semakin kencang. Seorang pria kurus tinggi yang selalu muncul di hari yang sama, waktu yang sama, dan melewati rute yang sama. Kulitnya yang kuning langsat nampak bersinar di bawah mentari. Tubuhnya cukup atletis de...